
Tracklist:1. BLESS
2. BLESS -Concerto-
3. ROUTE 666 -2010-
4. BLESS (hydeless version)
5. ROUTE 666 -2010- (T.E.Z P’UNKless version)
credits to setsustark@IDWS

Tracklist:













Jumat, 8 Mei 2009... Pukul 13.00 selepas shalat Jumat kami pun berangkat menuju Situ Gunung. Perjalanan dimulai dari pintu gerbang tol Slipi kemudian dilanjutkan menuju arah Sukabumi. Dengan penuh semangat kami berangkat ber-7 menggunakan mobil teman kami (Arif), walaupun mobil sesak dan AC dengan angin seadanya. Perjalanan penuh canda (weleh...) dan tawa (melankolis mulai..ahahaha), ya walaupun saya belum pernah ke Situ Gunung sebelumnya. Tempat-tempat yang menjadi patokan menurut teman kami telah terlewatkan (menurutnya ada 3 tempat yang kami jadikan patokan jarak Situ Gunung yaitu pertigaan Javanaspa, pertigaan menuju Citarik dan pertigaan yang menuju Halimun).
Dari sekian waktu yang kami tempuh, sebenarnya yang membuat perjalanan kami menjadi lama adalah banyaknya angkutan umum yang ngetem disepanjang jalan terutama di pasar hal ini akan semakin diperparah bila jam pulang pabrik tiba...teng! Praktis kemacetan hingga 1 atau 2 KM bukan menjadi barang aneh. Ternyata penyakit kota Jakarta sudah mulai menular hingga ke kota sekitarnya..weleh..weleh..tapi buat para pria yang matanya cukup lincah, hmmm..anda akan banyak melihat mojang-mojang Sukabumi berseliweran. Maklumlah inilah yang dilakukaan oleh teman-teman saya disela-sela bercandaan mereka dan tidak jauh-jauh dari omongan para lelaki...ahahahaha (belaga gak bersalah dan terlibat '_').
Situ Gunung sebenarnya adalah taman wisata alam yang sudah cukup terkenal akan danau buatannya yang indah karena jika kita tidak tahu asal muasal danau tersebut maka kita akan mengira bahwa itu adalah danau alami. Selain itu disana juga terdapat curug (maaf saya lupa namanya), kawasan TWA ini masih dibawah satu pengelolaan yaitu dibawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Situ Gunung sekarang merupakan camping ground yang sering digunakan, adanya fasilitas villa dan cottage menambah nilai plus baginya untuk menjadi tempat yang nyaman untuk melakukan acara-acara outbond. Tak heran jika pada hari libur kawasan ini sangatlah ramai. Kondisi alam Situ Gunung memang tergolong sudah terjamah. Akan tetapi walaupun seperti itu, disana kita masih bisa melihat beberapa ekor monyet dan serangga-serangga yang cantik sepanjang perjalanan menuju curug.
Situ Gunung terletak di wilayah Sukabumi, tepatnya di daerah yang bernama Cisaat. patokannya adalah kita belok di belokan yang berada di dekat Polsek Cisaat tepat di samping Indomaret. Dari belokan tersebut kita masih harus berjalan kurang lebih 5 KM untuk mencapai pos penjaga atau gerbang masuk Situ Gunung.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam setengah kami pun tiba di pos gerbang Situ Gunung. Dan kali ini kami harus mempersiapkan segala hal untuk bisa camping di TWA tersebut.
Akhirnya Situ Gunung pun di depan mata. Segarnya udara pegunungan mulai terasa. Setelah turun dari mobil, suara kumbang hutan mulai memekakan telinga. Maklum kami datang menjelang petang, kira-kira pukul 5 sore. Kali ini mendung menyelimuti langit Situ Gunung. Hal ini menambah temaramnya cahaya di sekitar.
Sebelum kami berangkat menuju tempat kemah, kami harus mengurus beberapa administrasi yang harus kami penuhi, ya..apalagi kalau bukan tiket masuk. Hehehe...
Biaya camping disini terbagi menjadi 3 macam...tapi ini menurut klasifikasi teman saya (Arif) pribadi..hmmm...--“ berikut adalah urutannya dimulai dari yang termahal :
· Nyewa
· Nyewa camping ground dimana dijamin luas, bebas binatang serangga dan gangguan dari group lain namun harga sesuai brosur...
· Camping didekat atau jalan menuju curug...biaya 11.500/malam...dan tentu paket inilah yang menarik hati kami dan akhirnya paket ini yang kami pilih...hehehehe...
Waktu untuk kemah dekat air terjun pun tiba. Barang-barang perlengkapan pun mulai kami keluarkan dari bagasi. Untuk mobil, di tinggalkan di tempat parkir pos pintu masuk Situ Gunung (ya iya lah.. masa di bawa naik juga?). Sebelum treking menuju lokasi, kami menyewa tenda dengan kapasitas 4 orang, karena tenda yang teman saya bawa hanya dapat menampung 2 orang saja. Pada akhirnya total biaya yang harus dikeluarkan untuk kemah sebesar 25.000/orang.
Selepas shalat Ashar, kami pun mulai berjalan memasuki jalan berlumpur menuju curug. kondisi kiri dan kanan masih ditumbuhi padat oleh pohon-pohon pinus. Tiba-tiba...Brrrrr...hujan deras seketika...
Hujan deras menyertai perjalanan menuju tempat dimana kami akan mendirikan tenda. Yang anehnya, bukan jas hujan yang menjadi senjata kami agar tidak kebasahan akan tetapi 2 buah payung besarlah yang menjadi senjata kami. Keanehan ini ditambah lagi dengan sikap kami semua dimana bukannya badan kami yang lindungi agar tidak basah akan tetapi barang-barang bawaan kamilah yang kami lindungi agar tidak basah. Hehehe…
Dengan terengah-engah serta badan yang basah kuyup dan muka pucet kedinginan, kami tetap berjalan dengan riangnya melewati medan-medan yang curam dan licin karena hujan deras(mantap kan penggambarannya...).
Setelah sekian jauh kami berjalan, kami menemukan sebuah tempat berada tepat di dekat aliran sungai dan jalan turun. Tadinya teman saya (Arif) mengajak yang lainnya untuk mendirikan tenda ditempat itu. Akan tetapi setelah kami cermati, ternyata tempat tersebut dekat dengan aliran air, dan akan sangat deras disaat hujan. Akhirnya kami putuskan untuk terus berjalan mencari tempat mendirikan kemah walaupun langit sudah mulai temaram dengan disertai hujan yang lebat. Jalan yang licin, turunan yang terjal bukanlah penghalang yang berarti. Semangat kami pun tak runtuh sedikit pun.
Tap..tap..langkah kaki disertai dengan hembusan nafas yang berat. Barang bawaan kami yang mulai basah pun kian terasa berat. Untungnya hujan lebih sedikit ramah waktu itu. Akan tetapi belum ada tanda-tanda adanya tempat yang sesuai untuk berkemah padahal hari mulai malam.
Tidak ingin ambil resiko, kami memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke air terjun selain itu hari memang sudah mulai gelap gulita dan senter pun tidak terlalu membantu untuk membuat kami terus berjalan untuk mencapai air terjun.
Jalan berbatu tak rapih dengan tanjakan yang lumayan curam, tiba-tiba...jreng..jreng.. Serempak "Alhamdulillah..." tempat mendirikan kemah pun terhampar ya...gak luas-luas amat sih... Namun cukuplah untuk mendirikan 2 tenda yang kami bawa. Bentuk tempatnya mirip seperti alun-alun kecil, dengan pohon besar di tiap sudutnya hingga menyerupai gerbang.
Dari sini mulailah s
uasana mistis mulai berhembus ditambah suasana malam yang gelap dan lembab (untung gak ada bulan purnama atau lengkingan serigala..). Pendirian tenda pertama pun dimulai!
Setelah tenda pertama berdiri, kami segera merebus air untuk makan PopMie...dengan alasan gelap dan minimnya api, PopMie kering berkuah pun serasa seperti mie Udon racikan Maria Ozawa sang Miyabi (lho kok?). Hehehe...setelah itu pendirian tenda kedua pun dimulai. Namun tiba-tiba teman kami Teguh…
"Anjriiiitt…!!! Kaki gue ada pacet!" (pacet menerupai cacing pipih tapi nyedot darah men...!)
dan... eng ing eng...
Serangan pertama dari bangsa pacet pun dimulai. Panik pun mulai menyelimuti kami. Segera semua personil memeriksa sekujur tubuhnya masing-masing dengan bantuan senter. Ibarat kata penampilan dan
Bukan hanya bangsa pacet yang menyerang kami. Saya, walau tampang sudah menyerupai mbah-mbah penjaga gunung (kata Arif --“ kurang ajar!) tetap tersengat oleh gigitan bangsa semut. Weleh-weleh, tempat boleh dapet nyaman tapi butuh perjuangan untuk bisa numpang tidur ditempat itu.
Usut punya usut, ternyata pacet-pacet tersebut berasal dari baju teman kami Usman. Walah...sampai-sampai tenda pertama menjadi sarangan pacet. Ya jadi kami melakukan ritual membasmi pacet dengan cara menabur garam di tenda-tenda kami. Sungguh suasana mencekam karena pacet.
Malam pun berlanjut dengan berbagai macam pengalaman dan kejadian yang lucu.
Malam makin larut. Rasa panik akan pacet sudah mulai kami rasa biasa. "Biarlah..itung2 nyumbang darah" huehehehe...
Sebelum tidur kami berkumpul dulu di tenda pertama hanya sekedar berbincang-bincang. Dengan slogan hemat energi senter, cahaya di dalam tenda kami memanfaatkan lilin yang di alaskan botol Kratingdaeng. Satu demi satu topik bahasan mulai kami lalui. Hingga pada akhirnya obrolan mulai memasuki zona terlarang...jreeeeng! Nah loh...
Dari semua anak, entah apakah latar belakahg pengalaman pribadi atau memang teman kami (Bedu) anaknya pemalu..(hooooeeeEeK!) namun dari sekian kata2 yang terlontar, Bedulah yang paling menjaga omongan. Weleh.."Ati2 lu kalo ngomong ini hutan" kalimat yang sering terlontar dari Bedu. Namun walaupun begitu celetukan2 Arif, Wahyu, Usman, Lingga, Teguh, dan Saya tetap aja "rada" parahhh...hehehe...dan akhirnya waktu tidurpun tiba. Arif dan Bedu kembali ke tenda sebelah yang dijadikan sebagai tenda logistik. Kata Arif dan Bedu mulailah terdengar perbincangan "ehem2" terdengar dari tenda sebelah mereka yaitu tenda yang ditempati saya dan yang lainnya (dah kayak siaran radio kata mereka yang menguping...hehehe…).
Mulailah sang bandar sudah mulai mempengaruhi anak2 di tenda saya. Ya siapa lagi kalau bukan sang maestro video ehem2, Wahyu...weleh2x... ("orang gue minta di setelin mp3 lagu-lagu yang lembut malah di setelin video yang aneh2, haduh…haduh…") perbincangan pun terus memanas hingga akhirnya...
Sing...siiiing...suara senyap terdengar, gara-gara Usman dan Lingga sang ilmuan berbincang masalah pemrograman sedangkan saya sama yang lain hanya menjadi pendengar karena gak ngerti yang mereka omongin...ahahahahaha... situasi ini sangat lucu. (bayangin aja dari omongan2 yang ehem2 langsung nyambung ke masalah kuliahan. Jelas mood turun..ahahaha...).
Suasana terus mengalir hingga akhirnya semua tertidur dengan sendirinya dan ditemani oleh gigitan semut dan pacet yang membuat tidur kami seperti tidur ayam (merem melek). Yah, untungnya aja tidak ada binatang-binatang buas atau makhluk-makhluk aneh dan kejadian-kejadian yang tidak diingininkan yang menggangu ketentraman kami tidur hingga pagi menjelang.
Pagi pun menjelang… Kami bangun dari tidur yang mungkin tidak nyenyak karena maklum kondisi hutan. Matahari masih mengumpat dibalik awan dan kerumunan pohon-pohon besar di sekeliling kami. Sebelum membereskan tenda kami memulai untuk memasak air panas untuk sarapan dengan Pop Mie lagi (mekar dah ini perut) karena cuma hanya ada bekal tersebut yang kami bawa.
Kami menikmati sarapan sambil minum kopi hangat, wah… sungguh pagi yang nikmat sarapan dengan mie dan minum kopi hangat di tengah kicauan burung di suasana hutan. (sok mellow dikit) hehehe…
Setelah selesai sarapan kami pun bergegas untuk membereskan tenda dan memungut atau membersihkan sampah-sampah di sekeliling tempat kami berkemah setelah itu tidak lupa foto-foto dulu donk... hehe... ya untuk mengabadikan moment yang paling berharga lah. hohoo...
Dan setelah semuanya selesai.. kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk menuju lokasi curug atau air terjun. Dan yang bikin kami kaget, kesal, bete, dan lain-lain adalah…
Ternyata lokasi curug tersebut tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda, kurang lebih kira-kira 250 meter kebawah (What The F**K!?). Tapi kami tidak menyesalinya juga, karena waktu itu hari sudah mulai gelap dan hujan pula, jadi kami tidak ingin ambil resiko untuk melanjutkan perjalanan menuju air terjun. Tapi kami merasa senang dan bangga mendirikan tenda di tempat itu karena merasa lebih ada tantangannya aja gituuu... (membanggakan padahal sedikit nyesel.. hehehe…).
Kami pun bersenang-senang di lokasi curug tersebut dengan mandi dan foto-foto di sekitar air terjun.
Setelah beberapa lama kami berada di lokasi air terjun, kami pun bergegas untuk kembali menuju pos untuk pulang. Tentunya dengan kembali menaiki, menuruni, melewati trek dan medan-medan yang curam kembali namun tidak separah kami berangkat, di karenakan tidak hujan dan hari masih siang matahari pun bersinar cerah.
Setelah sampai di pos kami pun mengembalikan tenda yang kami sewa semalam. Setelah itu kami semua memasuki mobil dengan wajah mengantuk.
Namun, sebelum pulang kami menuju lokasi Danau buatan yang cukup terkenal yang berada dekat dengan lokasi Situ Gunung. Kami bersantai-santai ria dengan berfoto-foto dan seperti kebiasaan sang lelaki yaitu melihat-lihat sekeliling siapa tahu ada mojang-mojang cantik gituuu… hehehe…
Hanya Bedu dan Lingga yang tinggal didalam mobil dengan alasan lelah, leltih, lesu... atau “jangan-jangan” mereka??? (hehe…kidding bro!? ^^).
Setelah sebentar kami menikmati pemandangan danau, kami semua pun pulang menuju
Terimakasih:
- Untuk Arif yang udah bantu membuat dan memberikan resensi cerita tentang kisah konyol kita ini.
- Untuk teman2 (Arif, Bedu, Wahyu, Teguh, Salingga, Usman) yang terlibat dalam petualangan konyol Situ Gunung ini.
- Dan buat semua yang baca cerita ini, semoga jadi pengalaman kalian yang mau dan baru pertama kali menjelajahi gunung dan hutan. :D

Apa warna cinta? Tergantung siapa yang menjawabnya juga.
Mungkin bagi orang yang baru patah hati,
Bagi yang baru saja berpacaran cinta itu pink dan begitu manis.
Tapi kalo menurut ane cinta itu putih.
Mengapa?
Putih itu bagaikan kertas kosong yang siap diisi oleh berbagai catatan akan pengalaman yang akan kita jalani.
Putih juga lambang ketulusan yang membuat cinta itu bersifat universal tanpa mengenal ras, agama atau perbedaan lainnya.
Unconditional Love, cinta tanpa syarat yang mengatasi semua batasan.
Kalo lw ditanya, "Apa warna cinta?" Apa Jawaban lw? Merah? Pink? Kuning? Biru Muda?
Hm, kalau menurut ane, cinta itu warnanya putih.
Putih?
Putih ya putih aja.
Di atas putih, warna seperti apapun...sehalus dan sesamar apapun, pasti akan tampak dengan jelas.
Semburat pink yang kadang nampak kadang tidak itu muncul ketika doki-doki waktu bertemu dengan orang yang dicintai.
Garis keunguan itu adalah rasa rindu dan kesepian.
Yang merah sekali itu saat sedang bertengkar karena cemburu.
Yang kuning berpendar dipojok itu berisi tawa dan senyumnya.
Sedangkan, yang biru-biru dan agak susah hilangnya ini ditinggalkan oleh air mata saat berpisah.
Kadang, yang terakhir ini butuh waktu lama sekali untuk luntur.
Tapi suatu hari nanti, segelap apapun tampaknya sekarang...
Suatu hari nanti paasti akan ada warna lain yang menyaputnya.
Nah, bukankah cinta itu seperti ini?
Penuh emosi.
Marah,senang,sedih dan bahagia,kadang tidak jelas mana di atas mana.
Dan betapapun kerasnya usaha untuk menyembunyikan perasaan itu...
...Karena cinta warnanya putih, pasti akan kelihatan juga.
---------------------------------------------------------------------------
Ini sebenernya kata-kata bukan original ane yang buat, tapi ane baca dari kata sambutan di majalah Animonster menjelang valentine's day, udah lama juga sih.. udah zaman baheula dah.. kira2 pas ane masih kelas 2 SMA kalo kaga salah, apa kelas 1 SMA ya?(lupa ^^").
Tapi ane setuju dengan kata-kata tersebut bahwa cinta warnanya putih kalo di definisikan menurut ilmiah, hehehe~
Nah, kalo menurut kalian? (seperti disebutkan diatas, tergantung siapa yg menjawabnya juga. ^^v)

langsung aja kita bahas.....
Visual Kei merupakan penggabungan dari kata Visual(bahasa Inggris), dan Kei(bahasa Jepang) yang mempunyai arti ‘gaya’. Jika komunitas Punk berasal dari London, maka Visual kei berasal dari Jepang.
Visual Kei (ヴィジュアル系 ,bijuaru kei?) mengacu pada sebuah gerakan dalam J-Rock yang populer pada sekitar tahun 1990-an. Gerakan ini ditandai dengan band yang mengenakan kostum dramatis dan imej visual untuk memperoleh perhatian. Di Jepang, penggemar band Visual Kei sebagian besar hampir selalu terdiri dari gadis remaja dan dipasarkan secara luas dalam bentuk merchandise anggota band itu sendiri. Di negara-negara lain, perbandingannya kecil secara kuantitas antara penganut Visual Kei kira-kira keseluruhan antara remaja putra dan putri.
Anggota band Visual Kei sering memakai make up yang mencolok, dengan gaya potongan rambut yang dramatis, yang mengingatkan pada “pita rambut” tahun 1980-an dan memakai kostum yang sangat rumit. Walaupun sebagian besar musisi adalah laki-laki. Anggota band sering bermake up dan memakai pakaian yang dapat dianggap sebagai feminin atau androgynous. Pada akhirnya sebagian band kembali pada image warna – warni dan fantastik yang populer sekitar 5 tahun lalu yang diinspirasi game RPG dan anime. Daya tarik kostum pada fans adalah dengan ditunjukkan oleh para gadis yang berpakaian cosplay sebagai anggota band favorit mereka, secara terpisah pada konser di Jepang, di Amerika pada acara-acara anime.
Band visual kei yang diartikan sebagai yang utama dari gaya visual, tidak mengacu pada jenis musik tertentu. Mereka sebagian memainkan musik rock, hard rock seperti Luna Sea, Dir en Grey, Penicillin, Due'le Quartz, Plastic Tree, musik gothic dan neoclassic seperti Malice Mizer, Moi Dix Mois, Rentrer en Soi, D'espairs Ray dan Phantasmagoria, Light Rock dan Pop seperti L'Arc~en~Ciel, Glay, Shazna dan musik heavy metal dan Ballad seperti X Japan, Loudness, Buck- Tick, Sex Machine Gun, selain itu musik industrial, punk, dan techno kadang - kadang juga masuk ke dalamnya. Dengan mengambil genre dalam arti yang luas, sebagian besar memutuskan memainkan beberapa jenis musik rock.
Pengamat barat seringkali kebingungan dalam membedakan Visual Kei Band dengan Band Gothic karena kadang-kadang penampilannya yang mirip dalam bermake up dan berpakaian, tetapi sebagian gothic Jepang tidak bisa memasukkan visual Kei menjadi Gothic, dan disana ada persilangan budaya kecil antara Visual Kei Jepang dan Gothic Jepang diluar model gothic lolita, yang mana dipengaruhi oleh subbudaya gothic.
Secara luas gerakan ini telah dimulai oleh X Japan pada tahun 1980-an, yang mengangkat tren dari pemanfaatan visual shock untuk memperoleh pengakuan dalam kancah musik independen.
Sejarah:
Sejarah yang “melahirkan” adanya Visual Kei sebenarnya bermula saat Jepang mengalami perubahan besar-besaran usai Perang Dunia II. Saat itu ada suatu komunitas yang ‘terbuang’ dari masyarakat. Komunitas ini tidak hanya berbicara melalui mulut dan tulisan, tapi juga lewat penampilan. Komunitas yang mayoritas terdiri dari kaum adam itu tampil dengan mengenakan berbagai macam aksesoris dan berdandan maupun berperilaku layaknya perempuan. Lewat apa yang mereka pakai, mereka berbicara tentang segala hal. Mulai dari politik, segala under pressure, hingga masalah-masalah psikologis. Namun seiring dengan perubahan zaman, komunitas ini perlahan-lahan mengalami “mati suri” hal ini dikarenakan banyak orang Jepang yang lebih memilih bunuh diri untuk menyelesaikan masalah, daripada tenggelam dalam penderitaannya sendiri.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Visual_Kei
Tambahan dari ane: Visual Kei itu bukan aliran musik, tapi hanya sekedar Style dari sebagian besar band-band yang bersal dari negeri sakura sana.